Tampilkan postingan dengan label LEM PENG PESANTREN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEM PENG PESANTREN. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Juli 2013
SERIBUDUA ENGLEST KOURSE
Sabtu, 09 Maret 2013
Angling Dharmo
Siapakah Anglingdharmo tersebut ? Apakah tokoh ini fiktif atau
memang pernah eksis masih perlu dikaji lebih lanjut oleh para ahli. Namun yang
pasti banyak versi tentang cerita Anglingdharmo ini. Salah satu versi yang
berkembang di masyarakat Banten, Anglingdharmo meruapakan nama lain dari
pendiri kerajaan Salakanagara yang bernama Aki Tirem. Kajian selengkapnya bisa
di baca disini.
Sedangkan di Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur,
masyarakatnya percaya bahwa bekas kerajaan Anglingdharmo (Malawapati) saat ini
merupakan wilayah yang yang membentang mulai Bojonegoro (Rajekwesi) sampai
sebagian Lamongan.
Sepertinya untuk Bojonegoro, Anglingdharmo dianggap tokoh yang eksis
dan turut andil dalam sejarah Bojonegoro. Ini dibuktikan dengan diabadikannya
beberapa hal yang terkait dengan tokoh yang satu ini. Nama Anglingdharmo
diabadikan menjadi salah satu ruangan dalam pendapa kabupaten Bojonegoro. Nama
kerajaan (Malawapati), istri (Setyowati) dan patihnya (Batik Madrim) diabadikan
menjadi nama jalan. Bahkan belibis putih, yang diyakini sebagai penjelmaan
Anglingdharmo, diabadikan menjadi nama objek wisata yaitu Taman Meliwis Putih
Rabu, 27 Februari 2013
AQIDAH ASY'ARI SEBAGAI SOLUSI KARAKTER WARGA NU (al Firqah an-Najiyah)
Bersabda
Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW, maknanya:“dan sesungguhnya ummat ini akan
terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di
surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Akal adalah
syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang
dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan
adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal,
mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah
raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal.
Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan
sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeza dengan golongan falsafah
yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan
penilaian akal semata-mata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa
memandang ajaran yang dibawa para nabi dan rasul.
Tuduhan kaum
Musyabbihah dan Mujassimah iaitu kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal
dalam agama, terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang
hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah
(anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan kerana menggunakan akal sebagai
salah satu sumber utama, adalah tuduhan yang amat salah. Ini tidak ubah seperti
kata pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah
senjata para pengecut). Secara ringkas tetapi namun padat, kita ketengahkan
pembahasan tentang Ahlussunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang
selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistemnya.
Langganan:
Postingan (Atom)